Weekend ini agak super dari weekend biasanya. Selain karena berada dalam masa PPKM Darurat yang sedang berlaku di Bali, juga karena hari ini saya dan keluarga hendak traveling untuk collect VLOG tentang coffee yang telah menjadi bagian hidup saya puluhan tahun lamanya. Bahkan sudah menjadi ritual sehari-hari.

Menjadi sangat istimewa alias super, karena berbagai kopi yang akan saya cermati, saya sedikit gali informasinya untuk saya bagikan dalam beberapa buah VLOG, sekaligus secara langsung saya akan menikmati coffee fresh from the production. Mungkin lebih tepatnya saya sebut sebagai “Coffee Travelling”.

“KOPI-KU PERTAMA DI RUMAH”

Saya masih ingat rasa kopi yang semalam sebelumnya diseduhkan oleh istri-ku tercinta. Kopi basic keluarga di Bali yang mereknya tidak perlu saya sebutkan intinya untuk budget keluarga normal lah. Sebuah kopi yang sekedar kopi dan tentunya robusta karena saya pahami konsep umum masyarakat di Bali, dimana kopi adalah tentang “pahit yang nendang”.

Pagi tadi, saya teringat masih memiliki sedikit Coffee Blue Tamblingan Natural yang bisa saya seduh. Jadi, dengan konsep normal penikmat kopi kelas “bapak setengah baya”, saya siapkan air panas mendidih, kemudian dengan thumbler karena hendak berangkat bepergian saya seduh kopi Blue Tamblingan Natural sebanyak 10gram, digerojog air panas dalam saringan, saya aduk-aduk sejenak, selanjutnya bisa anda tebak tentunya bahwa hidung saya yang maju terlebih dahulu untuk menikmati aroma sejuk dan alami yang muncul seketika diseduh.

“Kopi Premium memang nikmat….” dalam hati saya mensyukuri.

Setelah beberapa saat lamanya, setelah thumbler saya tutup tentunya. Saya selalu mencoba menikmati beberapa zip kopi ini tanpa gula untuk sekedar menanamkan kenikmatan kopi aslinya. “Sruput pertama, sruput kedua…. hingga entah berapa sruput telah saya nikmati”. Ada rasa kecut, fruiti, alami dan rasa hutan tropis dalam kopi ini.

“Oke, cukup deh. Now it is time to get a little sweet on it” sembari menambahkan 1 sendok gula pasir.

Lagi-lagi beberapa sruput kopi saya nikmati. Kali ini saya tidak ingat berapa kali telah menyeruput kopi yang telah sedikit manis. Kemudian, sudut mata saya melirik ada Fresh Milk merk GF yang tergeletak di atas meja dapur tidak jauh dari tempat saya menyeduh kopi dalam thumbler ini.

“Wah, ada fresh milk. Kayaknya enak kalo ditambahkan nih”, teringat seorang kawan disana yang selalu menambahkan kopinya dengan fresh milk. Tanpa pikir panjang saya tambahkan sedikit fresh-milk tersebut ke dalam thumbler tersebut. Sedikit diaduk supaya merata. Selanjutnya kembali beberapa seruput lagi untuk memastikan dan akhirnya

“Pas sudah…..”. Tutup lagi thumbler, kemudian siapkan di posisi yang terlihat supaya tidak terlupa ketika berangkat nanti. Hingga saat itu, aroma Blue Tamblingan yang khas tidak banyak berkurang. Hanya rasanya yang berbeda karena ada penambahan pemanis dan fresh-milk. Memang tajam aroma kopi ini. Akhirnya selamam perjalanan Canggu ke Munduk kopi inilah yang menemani tenggorokan. Terkadang sebagai pengobat dahaga, atau sekedar pengisi kekosongan waktu ketika anak-anak ingin berhenti menikmati indahnya alam selama perjalanan.

“KOPI-KU KEDUA DI MUNDUK”

Sekira pukul 14.30 wita, akhirnya kami sampai di Desa Munduk yang merupakan tujuan pertama kami dalam “coffee traveling” weekend ini. Begitu sampai di kediaman Bli Putu Ardana – sang founder Blue Tamblingan, dalam bathin saya terbersit bahwa kali ini saya akan dapat menikmati kopi dengan cara yang benar dari beliau. Beberapa kali singgah di kediaman beliau – saya selalu merasa bahwa cara beliau menyajikan kopinya berbeda dengan apa yang saya lakukan dirumah. Entah karena indahnya alam di sekitar rumah beliau, tempat ngopinya yang memang asyik atau memang cara penyajiannya yang beda. Pokoknya berbeda lah rasa kopi yang sama tapi disajikan di sini langsung oleh beliau.

“Jani mare maan ngopi seken jaen’ne…..” artinya : sekarang baru bener-bener ngopi enak nih.

Seperti biasanya, belum beberapa saat setelah memberikan salam ala masa pandemi COVID19 yang kekinian, kemudian duduk di bangku kayu antik yang belau miliki di coffee cafe nya. Sajian kopi Blue Tamblingan Natural disajikan di depan saya. Ditambah dengan “Biyu Ketip Kukus” (pisang kukus) yang khas menunjukkan bahwa saya ada di Desa. seperti biasa, hidung ini langsung saja menikmati pertama aroma khas kopi sajian beliau.

“Nah khan, pagi ini saya seduh Kopi Bli Putu yang Wine tapi dibanding dengan Kopi Natural yang disajikan ini kok aromanya beda jauh ya Bli?” sambil bercanda bahwa mungkin ada rahasia campuran yang saya tidak tahu – saya menjelaskan bagaimana saya menyeduh kopi di rumah tadi. Dengan enteng Bli Putu menjawab “Tow cara De nyeduh kpi yang tidak benar namanya”.

“Hmmm nyeduh kopi saja masih salah ya?” sambil saya bercanda. Ternyata setelah ditunjukkan bagaimana cara menyeduh kopi yang benar versi seorang senior kopi, saya sadari alasan kenapa kopi saya memiliki aroma dan rasa yang berbeda jauh. Lebih lanjut tentang cara “nyeduh” kopi yang benar ada dalam VLOG yang saya bikin tadi ketika di munduk. Mungking bisa menjadi masukan buat kalian juga sih. Hidup memang harus banyak belajar. Bahkan menyajikan kopi pun ada cara yang benar.

“KOPI-KU KETIGA DI MUNDUK”

Secara tidak sengaja, setelah dua minggu tidak berkunjung ke Munduk. Rupanya Bli Putu telah dengan tidak sengaja menjawab salah satu pertanyaan yang diajukan ke saya tentang kopi Blue Tamblingan. “Blue Tamblingan bisa dibuat untuk Espresso ndak Pak Gde?” Kala itu saya tidak berani menjawab secara pasti karena saya sendiri belum pernah mencobanya (ndak punya mesin nya red.). Namun kali ini saya bisa menjawab dengan pasti bahwa Blue Tamblingan bisa dibuat untuk Espresso, tapi dengan “catatan”.

Mumpung saya disini, ah sekalian aja saya bikin di VLOG untuk menunjukkan bahwa kopi Blue Tamblingan bisa juga untuk espresso yang menjadi dasar untuk penyajian olahan dan capucinno. Rupanya selama dua minggu dari terakhir saya ketemu Bli Putu Ardana, ada mesin espresso dan grinder machine kelas kakap yang “dibawa” oleh kawan beliau ke Munduk.

“Akhirnya…. dapat espresso Blue Tamblingan juga” dalam hati sih saya ngomong begini. Karena yakin setelah bikin VLOG saya bakal dikasi satu gelas espresso tersebut untuk saya nikmati. “Aget maan ke Munduk” (baca : beruntung bisa ke Munduk red.) Dan benar saja, setelah berbasa-basi sembari nge-VLOG “ini espresso-nya boleh saya coba ya Bli Putu” dengan mode modus ON.

Espresso Blue Tamblingan ini jauh lebih tajam ketimbang diseduh dalam sajian Kopi Tubruk. Sangat tajam malah. Dengan mudah hidung saya bisa memvonis bahwa kopi ini berasal dari kopi Blue Tamblingan Natural. Kalo masalah rasa, sepertinya mendingan anda mencobanya sendiri. Saya tidak bisa menulis untuk menggambarkan rasa dari “Espresso Blue Tamblingan Natural” ini. Pokoknya superb-lah.

Sebenarnya kopi Blue Tamblingan Natural bisa saja langsung untuk dibuat bahan espresso. Namun, kalo menurut ahlinya (Bli Putu red.) – kopi yang dipergunakan pada proses roasting nya lebih lama sedikit atau lebih dark ketimbang kopi Blue Tamblingan Natural yang disiapkan untuk kopi tubruk atau roasted bean yang ada. Untuk lebih jelas bisa dilihat pada VLOG saya yang menunjukkan proses bagaimana beliau menyiapkan Espresso tadi. Kopi espresso-nya pun saya yakin bisa mengalahkan beberapa merk terkenal yang sudah ada. Untuk lebih pastinya, karena ini tentang selera dari sebuah kenikmatan – Anda perlu untuk mencobanya sendiri.

“KOPI-KU KEEMPAT DI UMEJERO”

Selepas berbenah dan menyelesaikan obrolan panjang dengan Bli Putu Ardana di Munduk. Akhirnya kami memutuskan bergegeas untuk menuju ke Umejero – untuk mengantisipasi pembatasan yang kami masih belum tahu seperti apa di Desa Adat tujuan kami. Maklum ini adalah kali pertama kami keluar kota selepas PPKM Darurat ditetapkan oleh Pemerintah. Sebagai catatan, kami selama perjalanan pun membawa serta Sertifikat vaksin yang sudah kami miliki, juga melakukan swab antigen memastikan kami baik2 saja. Plus, kami juga mengurangi interaksi di jalan dengan khalayak ramai. Alias, masuk mobil trus tutup kaca ndak mampir-mampir selain ke tujuan kami.

Sekitar pukul 19.30 wita kami sampai di Dusun Umejero. Kami langsung menyambangi kediaman Kakek kami, Pekak (kakek red.) Made Witaya atau secara pribadi saya lebih nyaman memanggil beliau “Kak Mekel” karena beliau cukup lama mengemban tugas sebagai Perbekel (Kepala) Desa Umejero. Beliau sendiri bisa disebut sebagai tokoh masyarakat pada masanya dan sempat menjadi anggota dewan pada masa Orde sebelumnya. Apapun itu, setahu saya – Beliau adalah Kakek dengan karakter yang sangat kuat, bersahaja, dan menyayangi keluarga dan masyarakat disekitarnya.

Sesampai di kediaman beliau (Villa Puri Sangkih – tempat kami menginap malam ini), kembali Kopi disajikan oleh Nenek untuk saya. “Hmmm, kayaknya malam ini bakal susah tidur nih” bathin saya berujar. Tapi ya memang dasar “doyan” ngopi tetap saja saya mencoba menikmati sajian kopi tersebut sebelum makan malam.

“Kalo aroma dan rasa jangan terlalu berekspektasi deh… Tapi….. Sebentar dulu. Kok tidak seperti biasanya? Sepertinya nenek tidak menyeduhkan kami kopi Robusta TOP Umejero deh ini….” di bathin berkecamuk.

Mungkin karena sibuk dengan obrolan kami tentang berbagai hal yang akan kami lakukan besok, tentang keluarga kami dan mendiang ayah mertua saya dan situasi terkini di Umejero maupun di Canggu. Saya sempat terlupa hendak menanyakan kopi apa yang diseduh dan disajikan ke kami. Mungkin karena kopi ini sebagai obat menghangatkan badan karena saat ini kami berada di Dusun Umejero dengan ketinggan lebih dari 900 mdpl. Jadi suasana hawa dingin sudah mulai menusuk – kopi ini hanya sekedar lewat begitu saja tanpa ada kesan tersendiri.

Kopi yang diseduhkan ini memang kuat pahitnya, namun saya tidak mendapat ciri khas dari kopi ini selain bahwa kopi ini hangat dan manis karena sudah ditambah gula di dalamnya. Di akhir setelah kami mohon ijin untuk menginap dan menggunakan salah satu kamar di Homestay beliau – Dadong (nenek red.) membawa keluar sebuah bungkusan kopi dengan merk baru yang di produksi di kawasan Beng, Gianyar.

“Owh… pantesan biase gen kopine.” bathin saya dalam hati.

Mungkin karena ekspektasi kopi yang akan diseduh adalah kopi Robusta TOP Umejero sehingga saya merasa tidak ada yang istimewa di kopi yang tadi saya seruput satu cangkir sambil mencari-cari aroma dan rasa kopi TOP Umejero.

Anyway, itulah sedikit tentang wisata kopi yang saya lakukan hari ini. Sedari pagi hingga malam hari ini – yang akhirnya menyebabkan saya kesulitan untuk memejamkan mata, sekalipun sehari sebelumnya saya cukup kurang tidur karena sedang mengerjakan sebuah project hingga pukul 06.00 pagi. Sempat terpejam sejenak dari pukul 07.00 sampai dengan 10.00. Lanjut hingga artikel bergaya cerpen ini saya ketik pada pukul 03.18 wita.

Kopi terbukti nikmat – buktinya saya ngopi 4 kali hari ini.

Kopi terbukti booster kinerja otak – buktinya saya berkarya hingga saat ini.
Kopi terbukti mempertahankan stamina – buktinya saya masih melek sampai sekarang.
Kopi terbukti memiliki karakter – buktinya saya bisa membedakan rasa dan aroma kopi.
Kopi selalu menjadi kawan para pemikir – buktinya saya jadi banyak pikiran karena ngopi.

Salam Rahayu saking Pan Galih dari Dusun Umejero, Buleleng.
Artikel selesai diketik pukul 03.22 wita