Buat sebagian besar keluarga Hindu di Bali, momen Hari Raya Galungan adalah momen yang cukup memiliki arti. Terlepas dari segala hiruk-pikuk persiapan yang dilakukan dan berbagai sajian makanan yang disajikan, Hari Raya Galungan menjadi sebuah perayaan yang menyenangkan bagi anak-anak di keluarga kami.

Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan tersebut pertama kali dirayakan di Bali pada hari purnama Kapat tepat Budha Kliwon Dungulan, tanggal 15, tahun saka 804 atau 882 Masehi. Jika ditilik dari makna perayaan Galungan dimaksudkan agar seluruh umat Hindu mampu membedakan dorongan hidup antara adharma dan budhi atma (dharma:kebenaran) di dalam diri manusia. Kemudian kebahagiaan dapat diraih tatkala memiliki kemampuan untuk menguasai kebenaran.

Bagi keluarga kami, Momen Galungan adalah sebuah momen pembuktian dalam kehidupan kami. Pembuktian bahwa kami mampu bertahan ditengah berbagai polemik. Beragama dalam keberagaman. Berteguh dalam berbagai keterbatasan kami sebagai keluarga baru. Langkah kami jauh lebih panjang ketimbang keluarga lain yang telah turun temurun, karena kami mengawalinya dari tidak ada.

Kami tetap beryukur dalam keterbatasan kami. Ucapan syukur yang maha besar kami haturkan atas segala berkah dan rahmat Hyang Paramakawi kepada keluarga kami. Rahmat atas keteguhan dan keyakinan hati dan pikiran kami hingga sampai pada titik saat ini.

Bagi keluarga kami, Galungan adalah momen kami bersama dalam mengucapkan syukur – sekalipun setiap hari lain pun kami tetap bersyukur pada Hyang Paramakawi.