Mungkin tidak banyak rekan pembaca yang pernah mendengar kopi dengan nama Excelsa ini. Lebih familiar di telinga kita Excellso yang merupakan salah satu brand kopi yang cukup terkenal. Saya yakin juga tidak banyak penikmat kopi yang mengetahui keberadaan bahkan cerita di balik kopi excelsa ini.

Kopi untuk masyarakat Bali pada khususnya, sudah menjadi sebuah kebiasaan bahkan membudaya pengkonsumsian nya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kopi sering disimbulkan sebagai pelengkap dalam keseharian kita. Namun sesungguhnya, kopi bukanlah produk asli tanah Bali sekalipun saat ini masih banyak perkebunan kopi masyarakat yang ada di Bali. Nah, sekedar menambah pengetahuan saja, kebetulan penulis juga mendapat kesempatan untuk bercengkrama dengan Maestro Desa Umejero yang telah berpuluh tahun memberikan perhatiannya pada masayarakat adat dan khususnya masyarakat petani kopi di desa ini.

Beliau adalah Bapak Putu Witaya. Pria kelahiran 1942 ini bagi sebagian kami yang memiliki kedekatan dengan dusun Umejero ini mengenal beliau sebagai Pak Mekel atau Pekak Mekel. Berbagai jabatan adat maupun politis pernah beliau emban yang pada dasarnya ingin mengembangkan dan mensejahterakan para petani. Pada tahun 1976 malah beliau yang pertama menggagas Kopi Robusta TOP yang saat ini banyak dibudidaya di wilayah tersebut. Bahkan hingga saat ini beliau masih berkarya menggagas kembali dari tahun 2018 kopi varietas unggul yang berbuah di umur 3,5 tahun (normalnya kopi berbuah setelah 5 tahun red.)

Tentang Kopi Excelza – Kopi peninggalan Belanda

Secara fisik sangat terlihat jelas antara kopi peninggalan jaman penjajahan Belanda ini dengan kopi Robusta TOP yang saat ini dibudidayakan oleh para petani kopi. Kopi Excelza memiliki fisik lebih kekar, cenderung lebih tinggi, memiliki daun yang lebih lebat dan ternyata hasil buah cherry kopinya teramat jarang ketimbang kopi yang saat ini dibudidaya.

Pada sekitaran tahun 1920-an adalah awal masa pengembangan “teknologi dan pengembangan tanah” yang pada masa itu digagas oleh sejenih departemen pertanian milik Belanda yang berhubungan dekat dengan VOC. Kopi merupakan komoditas wajib dari VOC untuk dikirimkan ke Eropa. Mungkin atas dasar inilah kemudian Kopi dibawa ke Indonesia (Aceh, Jombang dan Munduk) pada saat itu untuk di tanam dan dibudidayakan.

Menurut cerita-cerita para tetua di wilayah ini, bahkan Belanda sampai membuat kebun percontohan yang disebut dengan LEMBAU yang sayangnya hingga artikel ini dibuat penulis masih belum mendapatkan informasi lebih lanjut tentang makna atau pun penanggungjawab dari lembaga yang disebut LEMBAU ini pada masanya. LEMBAU ini sendiri adalah institusi yang mengembangkan pembibitan dan perkebunan kopi.

Pada masanya kopi yang disebut Excelza ini menjadi kopi yang paling banyak ditanam di wilayah Dusun Umejero dan sekitarnya. Inilah mengapa di kawasan Desa Munduk dan Desa Umejero menjadi salah satu penghasil kopi terbaik pada masa penjajahan Belanda. Dan kopi Excelza ini saya yakin merupakan varietas unggulan pada masanya, walau kenyataan nya ketika dibandingkan dengan hasil kopi saat ini – Kopi Excelza menghasilkan sangat sedikit buah cherry kopi ketimbang Kopi TOP Umejero.

Saat ini Pekak Mekel masih menyisakan satu kawasan kebun nya untuk ditanami kopi jenis Excelza ini. Tentang hasilnya kita akan tunggu nanti dikemudian hari ketika panen. Penulis pun penasaran dengan rasa dan aroma yang dimiliki oleh kopi Excelza ini.

Pan Galih – July 2021

Saat ini kopi kokoh peninggalan jaman Belanda ini, masih sering digunakan oleh Pekak Mekel dan kelompok tani binaan beliau untuk dijadikan batang bawah atau base tanaman kopi dengan alasan kekuatan dan akarnya yang sangat kokoh dan mampu menjaga tanah tetap kuat.

Pan Galih – 24 Juli 2021