Renungan atau mungkin tepatnya celotehan dari penulis (Pan Galih). Sebagai sebuah response dari apa yang dialami oleh penulis dalam kehidupan hari Kamis 21 Oktober 2021.

Tidak semua orang pernah berada dalam sebuah situasi dimana hanya memiliki harapan sebagai sebuah kepastian dalam hidupnya. Mungkin sebagian orang akan menganggap cara pandang ini sebuah kesalahan. Sudah pasti banyak kritik yang akan disampaikan kepada anda ketika menyampaikan sebuah harapan atau kemungkinan sebagai sesuatu yang kita anggap kepastian.

Namun ketika kita dalam situasi yang tidak memiliki kepastian, sementara kita hanya memiliki sebuah keyakinan untuk bisa bertahan, apakah kemudian salah menyebut pengharapan tersebut sebagai sebuah kepastian yang kita nantikan? Bukankan berbagai tokoh duniawi kita ini selalu berkata “pikiran positif akan selalu membawa efek baik dalam kehidupan”. Bukankah kita lebih baik untuk memiliki pola atau platform pikir yang selalu positif, ketimbang harus menyebut atau menyampaikan sesuatu dalam posisi yang sama namun dalam sudut yang negative? Seperti “Sepertinya saya tidak punya kepastian yang bisa saya janjikan ke depan, mengingat saya hanya punya harapan akan sesuatu yang tidak pasti”

Namun, di dunia atau secara duniawi – inilah yang yang lebih diterima. Manusia lain sebagai kawan atau individu pendamping lebih mudah menerima ketika seseorang menyampaikan kepasrahan orang lain, sehingga di posisi tersebut mereka dimampukan untuk melakukan penghakiman. Maaf tidak semuanya mungkin ingin melakukan penghakiman – namun ketika berbicara dengan orang yang penuh pengharapan dalam hidupnya namun belum masuk dalam kapasitas sukses, cenderung ada kesan under estimate yang muncul sebagai penilaian awalnya.

Buat anda yang mungkin pernah mengalami di posisi ini, penulis mohon maaf harus menyampaikan “Jangan pernah merendahkan atau menilai sebuah pengharapan sebagai ketidak pastian belaka. Ingat bahwa pengharapan (mimpi) adalah sebuah booster dalam kehidupan kita. Anda akan segera menyerah dan ditinggalkan ketika anda tidak lagi memiliki pengharapan. You have to trust me on it”.

Bahkan Agama, mengajarkan untuk berpengharapan pada Tuhan.
Ketika lahir ke dunia pun, kita telah menjadi pengharapan tidak pasti orang tua kita.

Kita dilahirkan di dunia ini dengan dengan pengharapan dari orang tua kita masing-masing untuk bisa menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa (ketika anda lahir tahun 1970-an), atau diharapkan bisa menjadi orang yang bisa membawa kebaikan dan kedamaian (bagi anda yang lahir di tahun 1980-an), atau diharapkan menjadi orang yang mampu bertahan dan sukses dalam kerasnya dunia (bagi anda yang lahir di tahun 2000-an).

Bukankah ketika manusia kehilangan pengharapan yang tidak pasti tersebut, justru akan menjadi terpuruk? Bukankah dalam keterpurukan tidak akan ada harapan? Jadi kenapa sebuah harapan yang belum pasti ini tidak bisa diterima secara manusiawi sebagai sebuah optimism dalam menjalani kehidupan?

Bahkan beberapa detik kemudian kehidupan kita adalah KETIDAK PASTIAN?
Bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi di kehidupan manusia? Anda saat ini dalam kondisi yang terpuruk misalkan, belum tentu anda akan mati lebih cepat ketimbang mereka yang sedang dalam posisi yang mapan. Ketika si mapan merasa tidak ada ketakutan terlalaikan oleh takabur dengan mengabaikan keselamatan apakah tidak mungkin mengalami celaka atau maut? Ketika anda yang sedang terpuruk saat ini mengurung diri dan sedang menjalani hidup dengan penuh ketakutan dan kehati-hatian atau bahkan bersembunyi dari si mapan sehingga terhindarkan dari celaka atau maut seperti yang dialami si mapan. Bukankah dalam kehidupan kita ini tidak ada yang Namanya kepastian? Lalu kenapa kepastian ini seolah menjadi jaminan kenyamanan kehidupan seseorang?

Hidup saya terlalu banyak mengalami ketidakpastian, namun satu hal yang menjadi poin utama dimana saya bisa bertahan hingga saat ini adalah pengharapan. Sekecil dan setidak mungkin nya sebuah pengharapan akan menjadi kekuatan untuk saya bertahan. Hidup ini hanyalah pinjaman dari Yang Maha Kuasa. Jadi, sekuat-kuatnya saya mampu merencanakan dalam kehidupan tetap dalam ketidakpastian Ilahi. Jadi kenapa tidak sekalian saja saya menjalani berbagai ketidakpastian pengharapan yang dimiliki oleh dunia.

Sekedar mengenang betapa kehidupan belakangan ini menunjukkan kekuatan ketidakpastiannya kepada manusia. Betapa Yang Maha Kuasa dan alam ini sedang menunjukkan bahwa tidak ada yang pasti dalam kehidupan kecuali perubahan, tua dan mati.

Erupsi Gunung Agung, yang sejenak membuat kita menghela nafas panjang dan membayangkan yang terburuk yang bisa terjadi pada saat itu. Pengharapan keyakinan kita kepada Hyang Paramakawi yang mampu membuat kita melewati masa ketidakpastian tersebut.

Pandemi COVID-19, yang masih berlangsung bahkan hingga saat ini. Berbagai efek dari lockdown dan pandemic ini telah memporak-porandakan kita. Apakah kita memiliki kepastian kapan kehidupan kembali normal? Bukankan pengharapan yang tidak pasti juga yang selalu menjadi kekuatan kita bertahan? Bukankah pengharapan yang tidak pasti ini menjadi sesuatu yang baik bagi kita untuk bertahan?

Jawaban ada pada diri kita masing-masing memang. Bagaimana anda akan menyikapi dan meresponse. Bagi saya, kendati ketidakpastian harapan masih belum Nampak – saya akan jaga agar kelak bisa terjadi. Paling tidak menjadi semangat dalam bertahan tanpa harus berhenti dan tidak memiliki harapan sama sekali.

Kepastian dari sebuah Pengharapan yang tidak pasti adalah Semangat.